Dunia Gonjang-ganjing Lagi, Bukti Amerika Harus Resesi!

The United State flag is silhouetted against the setting sun Sunday, May 28, 2017, in Leavenworth, Kan. (AP Photo/Charlie Riedel)

Pasar finansial dunia kembali gonjang-ganjing pada Rabu (8/3/2023). Penyebabnya, pernyataan ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) atau uang dikenal dengan Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, kemarin malam.

Di hadapan Senat AS, Powell mengatakan suku bunga bisa naik lebih tinggi lagi.

“Data ekonomi terbaru datang lebih kuat dari yang diharapkan, ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga akhir kemungkinan akan lebih tinggi dari yang diantisipasi sebelumnya,” kata Powell sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (7/3/2023).

Sontak, bursa saham AS (Wall Street) anjlok sekitar 1,5%, yang merembet ke bursa saham dunia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Imbal hasil (yield) obligasi AS atau Treasury kembali melesat naik yang berisiko memicu capital outflow dari negara berkembang termasuk Indonesia. Nilai tukar rupiah pun kembali terpuruk, begitu juga mata uang lainnya, sebab indeks dolar AS naik lebih dari 1% kemarin.

Gonjang ganjing sektor finansial ini bisa merembet ke sektor riil. Jika yield Treasury dan dolar AS terus menanjak, maka bank sentral di negara lainnya kemungkinan akan kembali agresif menaikkan suku bunga, pelambatan ekonomi yang dalam bisa mengancam lagi.

Pernyataan Powell memang selalu memberikan dampak besar. Suku bunga disebut bisa naik lebih tinggi akibat inflasi yang bandel alias sulit turun. Perekonomian Amerika Serikat yang masih kuat meski The Fed sudah menaikkan suku bunga sangat tinggi menjadi penyebabnya.

Kalau perekonomian kuat, dengan pasar tenaga kerja yang ketat dan kenaikan rata-rata upah yang cukup tinggi, daya beli masyarakat masih terjaga.

Departemen Tenaga Kerja AS pada awal Februari lalu melaporkan sepanjang Januari perekonomian Paman Sam mampu menyerap 517.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payroll), jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 260.000 orang.

Tingkat pengangguran pun turun menjadi 3,4% dari sebelumnya 3,5%. Persentase penduduk yang tidak bekerja tersebut berada di posisi terendah sejak Mei 1969.

Kemudian, rata-rata upah per jam masih tumbuh 4,4%year-on-year, lebih tinggi dari prediksi 4,3%.

Dalam kondisi normal hal itu adalah kabar bagus, tetapi ketika sedang “berperang” melawan inflasi, tentunya daya beli masyarakat yang terjaga membuat The Fed sulit menang.

Terbukti, inflasi berdasarkan personal consumption expenditure (PCE) kembali naik 5,4% (yoy) pada Januari dari sebelumnya 5,3%.

Inflasi inti PCE juga naik menjadi 4,7% dari Desember 4,6%. Inflasi PCE menjadi acuan The Fed dalam menetapkan kebijakan moneter, termasuk juga pasar tenaga kerja.

Sehingga, perekonomian Amerika Serikat memang harus mengalami resesi agar inflasi bisa turun. Resesi bisa membuat daya beli masyarakat menurun sehingga belanja akan berkurang. Dalam kondisi tersebut, demand pull inflation bisa diredam.

Resesi kini ibarat obat, pahit tapi bikin sehat. Lebih baik mengalami resesi sesaat ketimbang menghadapi inflasi yang tinggi selama bertahun-tahun. Inflasi tinggi dalam waktu yang panjang bisa berdampak sangat buruk bagi Amerika Serikat, begitu juga dunia. Sebabnya, The Fed akan menahan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama lagi. Perekonomian Amerika Serikat akan “mati pelan-pelan”.

Negara lainnya juga bisa terdampak. Seperti disebutkan sebelumnya, semakin tinggi suku bunga di Amerika Serikat maka risiko capital outflow semakin besar dan panjang.

The Fed kini disebut tidak memiliki pilihan selain membawa perekonomian Negeri Paman Sam mengalami hard landing alias resesi.

Saya pikir The Fed tidak memiliki pilihan selain merekayasa hard landing. The Fed akan merasakan tekanan untuk terus menaikkan suku bunga,” kata Priya Misra, ahli strategi di TD Securities saat diwawancara CNBC International Jumat pekan lalu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*