Fenomena Langka: Mau Puasa Warga RI Masih Malas Belanja

Pengunjung memilih pakaian yang dijual di salah satu pusat perbelanjaan Jakarta, Junat (30/12/2022). Akhir tahun merupakan salah satu momen yang ditunggu-tunggu warga karena kerap banyak diskon. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2023 atau sebulan menjelang Ramadan justru menurun.

Sikap pesimis masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan dikhawatirkan akan berdampak kepada tingkat belanja masyarakat selama Ramadan.

Bank Indonesia (BI) mencatat IKK pada Februari 2023 ada di angka 122,4 atau turun dibandingkan pada Januari yang tercatat 123,0.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) masih naik tipis menjadi 112,4 pada Februari 2023 dari 112,1 pada bulan sebelumnya. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) ambruk dari 133,9 pada Januari 2023 menjadi 132,5 pada Februari.

Melandainya IKK sebulan menjelang Ramadan bukanlah hal yang lazim. Sebulan sebelum bulan Ramadan datang pada 2021 dan 2022, IKK bahkan melonjak cukup tajam.

Kenaikan IKK menjelang Ramadan terkait erat dengan optimisme kenaikan penjualan dan keuntungan bisnis selama Ramadan.

Data BI menunjukkan IKK biasanya naik tajam menjelang Bulan Puasa, kecuali pada 2020. Pada tahun tersebut, Ramadhan datang pada akhir April atau hanya sebulan setelah Indonesia dihantam pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, warga Muslim Indonesia akan menjalani Ramadan pada 23/24 Maret tahun ini. Data BI menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen pada Februari 2023, terutama melemah untuk kelompok pengeluaran menengah ke bawah.

Dari lima kelompok pengeluaran yang disurvei BI, hanya mereka yang memiliki pengeluaran Rp 4,1-5 juta yang optimis dengan ekonomi Indonesia saat ini dan ke depan.

Indeks Keyakinan Konsumen kelompok pengeluaran Rp 1-2 juta adalah yang paling pesimis. IKK mereka anjlok dari 122,1 pada Januari 2023 menjadi 115,6 pada Februari.

Kelompok pengeluaran Rp 2,1-3 juta dan Rp 3,1-4 juta juga anjlok. Kedua kelompok pengeluaran tersebut juga melihat kondisi ekonomi saat ini dan ke depan dengan pesimis.

Termasuk di dalamnya adalah kondisi lapangan kerja, penghasilan, dan usaha dalam enam bulan ke depan.

Pesimisme dalam melihat kondisi ekonomi saat ini dan enam bulan ke depan juga terlihat disampaikan kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta.

Kelompok tersebut adalah mereka yang memiliki pengeluaran terbesar dalam survei BI. IKK pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan anjlok menjadi 124,6 pada Februari 2023 dari 128,2 pada Januari 2023.

Ekspektasi mereka dalam melihat kondisi ekonomi saat ini juga turun jauh dari 139,3 pada Januari 2023 menjadi 233,9 pada Februari 2023.

Mereka juga sangat pesimis dalam melihat ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan kegiatan usaha dalam enam bulan ke depan.

Indeks ekspektasi kegiatan usaha dalam enam bulan ke depan anjlok dari 143,6 pada Januari 2023 menjadi 129,3 pada Februari 2023.

Melandainya IKK sebulan sebelum Ramadan dikhawatirkan bisa berimbas kepada belanja masyarakat selama Bulan Puasa. Padahal, Ramadan biasanya menjadi puncak konsumsi masyarakat Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menjelaskan saat ini adalah periode low season belanja.

“Saat ini sedang dalam periode “low season ” di mana sebentar lagi akan bergeser menuju ” peak season ” yaitu pada saat memasuki Ramadan,” tutur Alphonzus, kepada CNBC Indonesia.

Alphonzus memperkirakan belanja masyarakat akan mencapai puncaknya pada 1-2 minggu menjelang Lebaran.

“Penjualan akan mencapai puncaknya pada saat 1-2 minggu menjelang Idul Fitri yaitu pada saat THR dibagikan,” imbuhnya.

Senada, Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono mengatakan permintaan masyarakat turun pada Februari 2023 setelah melonjak pada Desember 2022 dan Januari 2023.

“Memasuki Maret, biasanya mulai ada naik lagi dan nanti terus mengalami kenaikan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri,” tutur Yudo, kepada CNBC Indonesia.

Data Mandiri Spending Index juga menunjukkan nilai belanja pada akhir Januari 2023 ada di kisaran 131,7 atau lebih rendah dibandingkan akhir Desember 2022 yang tercatat 147,8.

Frekuensi belanja orang ada di angka 157,9 pada akhir Januari 2023, dari 176,7 pada akhir Desember 2022.

Mandiri Spending Index juga menunjukkan nilai belanja dan volume belanja terus turun. Pada Januari, volume belanja bahkan terkontraksi 5,1%.

Mandiri Spending Index juga menunjukkan penjualan di department stores, supermarkets, dan restoran mulai melandai setelah akhir tahun meskipun retail masih stabil.

Data yang sama memperlihatkan konsumsi masyarakat untuk peralatan rumah tangga, fashion, serta ritel terus turun.

“Pertumbuhan belanja (tahunan) masih melambat pada awal tahun ini. Secara nilai memang naik tetapi secara volume turun. Harga yang lebih mahal membuat nilai belanja naik tetapi tidak di volume,” tulis Bank Mandiri dalam laporannya Brief on Latest Consumer Spending edisi Januari.

Persoalan belanja yang menurun disorot khusus oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden mulai khawatir dengan sikap masyarakat yang memilih untuk menahan belanja dan menyimpan uang di perbankan. Presiden pun meminta semua pihak untuk mendorong masyarakat semakin gemar belanja.

Jokowi menjelaskan belanja masyarakat saat ini sangat diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Rumusnya justru kita mendorong masyarakat untuk belanja. Bukan hemat sekarang ini karena kita membuat agar pertumbuhan ekonomi terjaga kalau bisa naik,” tutur Jokowi, saat memberikan pengarahan kepada Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) di Balikpapan, Kamis (23/2/2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*