Setelah Singapura, Amerika Kini Bakal “Rebut” Dolar Milik RI

foto ilustrasi dollar

Indonesia sebenarnya memiliki valuta asing (valas) khususnya dolar Amerika Serikat (AS) yang lumayan banyak, jika dilihat dari surplus neraca perdagangan. Sayangnya para eksportir menempatkan dolar AS mereka di luar negeri, khususnya Singapura. Hal ini membuat pasokan valas di dalam negeri menjadi tiris, tercermin dari cadangan devisa yang terus menurun pada tahun lalu.

Neraca perdagangan yang sudah mencatat surplus 33 bulan beruntun. Total nilai surplus selama periode tersebut mencapai US$ 113,2 miliar, berdasarkan data Refinitiv.

Guna menarik dolar AS yang ditempatkan di luar negeri, Bank Indonesia (BI) merilis aturan operasi moneter Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE) yang berlaku sejak 1 Maret lalu. Kesuksesan operasi moneter tersebut bisa akan tercermin dari cadangan devisa Maret yang dirilis bulan depan.

Dalam TD Valas DHE BI memberikan bunga yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan di Singapura. Tujuannya jelas agar bisa menarik valuta asing milik eksportir yang ditempatkan di luar negeri.

Berdasarkan data dari Bahana Sekuritas suku bunga deposito valas yang diberikan BI berkisar antara 4,6% – 5,2% dengan tenor satu sampai enam bulan. Sementara di perbankan Singapura kisaran 4,12% – 4,68%.

Tetapi tantangan kini tidak hanya dari Singapura, Amerika Serikat juga bisa “merebut” dolar AS milik Indonesia. Sebabnya, imbal hasil (yield) obligasi jangan pendek (Treasury Bill) yang melesat tinggi.

Berdasarkan data Refinitiv, yield Treasury Bill tenor 6 bulan naik 13 basis poin pada perdagangan Selasa ke 5,28%, tertinggi dalam nyaris 17 tahun terakhir. Artinya, yield tersebut lebih tinggi dari suku bunga yang tertinggi yang diberikan BI.

Eksportir tentunya akan tergiur dengan imbal hasil yang lebih tinggi, apalagi Treasury merupakan aset safe haven. Ke depannya, yield Treasury bisa saja terus menanjak, sebab bank sentral AS (The Fed) menegaskan suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) bisa naik lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.

“Data ekonomi terbaru datang lebih kuat dari yang diharapkan, ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga akhir kemungkinan akan lebih tinggi dari yang diantisipasi sebelumnya,” kata Powell dalam sambutannya di hadapan Senat AS, Selasa waktu setempat.

Powell juga menegaskan laju kenaikan suku bunga bisa kembali ditingkatkan jika diperlukan guna bisa mengendalikan inflasi.

Pada Desember lalu, The Fed memproyeksikan puncak suku bunga berada di kisaran 5% – 5,25%, dengan pernyataan Powell tersebut artinya kemungkinan lebih tinggi lagi.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat puncak suku bunga The Fed berada di kisaran 5,5% – 5,75%.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*