Tak Cuma Singapura, Amerika Juga Bisa “Rebut” Valas RI

foto ilustrasi dollar

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa kembali naik pada Februari. Dengan demikian, cadangan devisa Indonesia sudah naik dalam empat bulan beruntun. Tetapi sayangnya belum mampu berdampak positif ke rupiah yang melemah 0,39% ke Rp 15.350/US$.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2023 dilaporkan mencapai 140,3 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir Januari 2023 sebesar 139,4 miliar dolar AS.

Dalam empat bulan, total cadangan devisa sudah naik US$ 10,1 miliar, nilai yang cukup besar.

Cadangan devisa penting bagi rupiah, sebab bisa menjadi amunisi bagi BI untuk intervensi ketika terjadi gejolak.

Namun pelaku pasar tidak terkesan dengan data tersebut, sebab penyebab kenaikan kali ini salah satunya adalah penarikan utang pemerintah.

“Peningkatan posisi cadangan devisa pada Februari 2023 antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah,” tulis BI dalam keterangan resmi Selasa (7/2/2023).

Hal yang sama juga terjadi pada bulan Januari, kenaikan cadangan devisa sebesar US$ 2,2 miliar terjadi karena penerbitan global bond.

Pemerintah saat itu menerbitkan global bond atau surat utang berdenominasi mata uang asing senilai US$ 3 miliar.

Pelaku pasar saat ini menanti dampak dari operasi moneter Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE) yang dikeluarkan BI sejak 1 Maret lalu. Kesuksesan operasi moneter tersebut bisa akan tercermin dari cadangan devisa Maret yang dirilis bulan depan.

Dalam TD Valas DHE BI memberikan bunga yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan di Singapura.

Tujuannya agar bisa menarik valuta asing milik eksportir yang ditempatkan di luar negeri.

Berdasarkan data dari Bahana Sekuritas suku bunga deposito valas yang diberikan BI berkisar antara 4,6% – 5,2% dengan tenor satu sampai enam bulan. Sementara di perbankan Singapura kisaran 4,12% – 4,68%.

Jika sukses, pasokan valuta asing khususnya dolar AS akan bertambah di dalam negeri, dan nilai tukar rupiah bisa menjadi lebih stabil, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa menguat.

Maklum saja, devisa hasil ekspor yang nilainya jumbo jika dilihat dari neraca perdagangan yang sudah mencatat surplus 33 bulan beruntun. Total nilai surplus selama periode tersebut mencapai US$ 113,2 miliar, berdasarkan data Refinitiv.

Namun kini tantangan menarik dolar AS milik eksportir tidak hanya datang dari Singapura, tetapi juga Amerika Serikat. Sebabnya, imbal hasil (yield) obligasi di Negeri Paman Sam yang kini tinggi. Yield obligasi tenor 6 bulan saat ini berada di kisaran 5,18%.

Imbal hasil tersebut hampir sama dengan suku bunga tertinggi yang diberikan BI, tidak menutup kemungkinan eksportir memilih Treasury. Apalagi, ada kemungkinan imbal hasilnya akan semakin tinggi lagi sebab bank sentral AS (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga acuannya. Sehingga data cadangan devisa pada bulan depan bisa memberikan gambaran apakah investor tertarik untuk memarkir dolarnya di dalam negeri atau tidak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*